Kisah perjalanan hidup seseorang memang berbeda-beda, seperti yang dialami Peter Yan. Bapak usia 50 tahunan ini ternyata lulusan S2 Jerman bidang transportasi. Bekerja menjadi sopir taksi tidak malu beliau jalani demi untuk mendedikasikan ilmu transportasi yang dipelajari di Jerman.
Pernah punya ide mengenai transjakarta, ternyata tidak membuat bapak dua anak ini memiliki pekerjaan yang tetap. Beliau bahkan sempat tidak memiliki pekerjaan selama 3 tahun, segala perabotan dirumahnya pun satu per satu dijual demi untuk memenuhi kebutuhan hidup.
Meskipun menjalani profesi sebagai sopir taksi, ternyata Peter Yan mengamati kesemrawutan transportasi di Jakarta. Perilaku dari satu kawasan dengan kawasan lain, beliau cukup hafal permasalahan yang ada dilapangan, sehingga beliau menyatakan telah memiliki solusi yang mampu mengatasi kemacetan di Jakarta.
Untuk ide yang beliau punya tersebut, beliau membandrol harga kurang lebih tiga ribu dollar. Ide apakah yang Peter Yan miliki? Dan apakah pemerintah bersedia bekerjasama dengannya untuk mengatasi kemacetan di Jakarta yang semakin semrawut? Kita lihat saja..

No comments:
Post a Comment