Indonesia : Surganya Produk KW?

Banyak yang mengakui bahwa orang Indonesia merupakan orang-orang yang kreatif. Satu sisi, pernyataan tersebut memang terbukti benar dengan hadirnya pengusaha yang sukses dari hasil kreatifitasnya menjadikan sesuatu yang unik dan baru. Tapi di sisi lain tidak seperti itu, mereka kreatif dengan meniru produk yang sudah ada. Sebenarnya hal ini tidak menjadi masalah besar, mungkin hubungannya dengan pihak berwajib dan pemilik produk asli yang ditiru.


Yang menjadi masalah besar adalah jika yang ditiru itu adalah produk yang membahayakan jiwa manusia, tetapi tetap diproduksi hanya karena memikirkan keuntungan materi tapi tidak memikirkan keselamatan orang lain. Dalam segala sudut pandang, tentu saja hal ini adalah perbuatan yang salah, melanggar hukum dan sebagainya. Tetapi orang sekarang tidak lagi peduli kepada resiko yang akan diterima orang lain akibat perbuatannya, yang penting dia dan keluarganya bisa makan syukur-syukur bisa kaya.

Waduh.. Orang dengan pemikiran seperti ini tidak akan berfikir lagi apakah halal atau haram apa yang dia lakukan untuk mencari nafkah. Alasan klasik, untuk memenuhi kebutuhan perut.

Jika yang KW itu produk seperti tas, sepatu, baju dan lain-lain bukan masalah. Lha ini, ada nasi KW, margarin KW, telur KW, daging KW. Itu baru dari yang KW saja, bagaimana dengan yang menggunakan boraks, tawas, plastik untuk gorengan, pemutih untuk nasi. Parah..!

Memang sudah separah itukah akhlak orang Indonesia yang terkenal ramah, baik dan bla..bla..bla lainnya yang baik-baik?

Dulu, hampir tidak pernah ditemukan penyakit kanker, stroke, diabetes, penyakit komplikasi dan kronis lainnya. Apakah penyakit-penyakit tersebut muncul akibat makanan yang telah terkontaminasi bahan-bahan yang sebenarnya tidak boleh dikonsumsi manusia? Bisa jadi.

Lalu mengapa sekarang sepertinya sudah lumrah dan wajar jika para pedagang menggunakan cara-cara curang semacam ini? Mana peran negara sebagai pengayom masyarakat sebagai konsumen?

Sepertinya semua sibuk dengan dunianya masing-masing, jadi lebih baik masing-masing juga dari kita untuk waspada dengan bahan makanan yang akan menjadi konsumsi kita dan keluarga. Jangan pernah bergantung kepada orang lain, mulai dari diri kita sendiri saja.

No comments:


About | Contact | Privacy Policy
Copyright © Blog Radja - Powered by Blogger